TERLALU JELAS: (PART 3) PERBURUAN KECIL

0
1
Share this on

(PART 3) PERBURUAN KECIL

Baca juga:

Part 1

Part 2

Iyar dan aku meletakkan buku tulis kami di pematang sawah sementara Suk mulai mengais sembulan pucuk daun ubi jalar yang terlihat. Itu pertanda bahwa ada sisa ubi di dalamnya. Suk sudah tiba di sini lebih dulu. Kami pun segera bergabung dengannya. Cuaca sangat panas hari ini. Baru beberapa menit dan kami sudah basah oleh keringat.

“Nanti kamu nggak dimarahi lagi pulang telat?” tanya Suk padaku. Di antara kami memang akulah yang paling sering dimarahi orang tua. Terlalu banyak bermain bersama teman-temanku juga akan dimarahi.

“Ya dimarahin” jawabku.

“Terus?” lanjut Suk sambil terus mengasi dan menggali dengan sepotong ranting yang dia pungut sebelumnya.

“Ya biarin aja. Nggak ngapa-ngapain juga dimarahin.” Kataku cengengesan. Iyar tertawa. Iyar sangat tau kondisi di rumahku karena kami bertetangga, dia bisa mendengar setiap kemarahan dan teriakan dari rumahnya. Rumah Suk terletak di sebelah barat kampung kami, kira-kira 300 meter dari rumah kami. Di sekitar rumahnya masih lebih rimbun dan seram dibanding rumah kami. Setidaknya di sekitar rumah kami masih ada banyak rumah. Itulah kenapa kami jarang pergi ke rumahnya. Dia yang lebih sering ke rumah kami.

“Aku dapat yang ungu!” teriak Iyar sumringah.

“Wah lihat lihat!” Suk dan aku menghampiri.

Ubi ungu dan merah adalah favorit semua orang karena lebih jarang ditemukan. Jika di rumah ada, maka kami akan berebut untuk mendapatkannya. Dan biasanya kami memakannya mentah tanpa direbus karena tidak sabar ingin mencicipinya. Ubi merah mentah terasa lebih manis dari ubi ungu, tapi ubi ungu lebih enak jika direbus. Jika hari ini dapat banyak maka kami akan meminjam panci tanah di rumahku untuk merebusnya. Di belakang rumah, di rumah-rumahan kami.

Setelah hampir satu jam kami akhirnya berhenti. Bakul yang dibawa Suk penuh. Kami mendapatkan empat ubi ungu, sisanya adalah ubi merah, kuning, dan putih. Kami mencuci tangan dan ubi yang kami dapatkan di lengkok di sebelah kanan sawah. Setelah selesai kami berangkat pulang. Kami bergantian membawa bakul berisi ubi tersebut. Suk mendapatkan giliran pertama, kemudian Iyar, aku yang terakhir karena ubi ini akan disimpan di rumahku sebelum kita bertemu sore ini di rumah-rumahan kami.

“Besok kamu ke pasar?” tanya Iyar.

“Nggak tau. Kalau nanti disuruh ikut ya ikut.” Jawabku.

“Iya besok kalian libur kan?” tanya Suk retorik. “Aku juga besok ke pasar.”

“Bawa kelapa lagi?” tanyaku.

Suk dan aku sebenarnya masih keluarga. Ayahnya dan ayahku bersaudara. Ayah Suk bekerja sebagai pengepul kelapa dari petani kemudian menjualnya ke pasar.

“Kamu kaya ya!” kata Iyar. Kami selalu beranggapan ayah Suk kaya. Dia selalu ke pasar. Aku kadang merasa heran kenapa anak-anaknya tidak disekolahkan. Suk adalah anak tertua. Di lain pihak ayahku menganggap anak tertualah yang paling harus disekolahkan. Kami tidak tau kehidupan di luar sana seperti itu. Sejujurnya, kami beranggapan bahwa kehidupan hanya sebatas di sekitar kami saja. Dan di mata kami, keluarga Suk sangat kaya. Kami tidak tau apa sebenarrnya yang kami katakan.

Suk ikut ke rumah Iyar sementara aku langsung pulang. Setelah bantu-bantu membereskan pekerjaan rumah aku juga akan ke rumah Iyar bergabung bersama mereka.

Indy, kakakku yang nomor tiga, sedang membereskan beberapa potong kayu bakar di depan rumah saat aku tiba. Rupanya ayah dan ibu belum pulang dari pasar. Indy terlihat capek.

“Kamu habis cari ubi?” katanya melihat bakul yang aku bawa.

“Iya.” Jawabku sambil meletakkan bakul di tangga depan pintu. Tangga ini juga terbuat dari tanah, sama seperti keseluruhan pondasi rumah kami.

“Itu bakul siapa?” tanyanya lagi.

“Punya Suk. Tadi dia juga ikut.” Jawabku menyalaminya. “Nanti sore kami mau rebus ubinya di sini.”

“Di rumah tidak ada makanan. Yati juga tidur karena lapar.”

Tidak ada makanan artinya tidak ada makanan, yang sudah matang ataupun belum. Tidak ada bahan makanan. Kadang ini memang terjadi, ayah dan ibu pulang agak telat. Jualannya tidak selalu cepat habis. Terkadang mereka harus tinggal di pasar sedikit lebih lama dari biasanya. Dan itu artinya tidak ada makanan di rumah.

Aku masuk ke rumah dan mengganti bajuku. Aku kemudian ke dapur untuk mengambil air minum dari kendi. Air minum masih banyak. Kami biasanya mengambil air minum  pagi dan sore hari. Karena aku harus ke sekolah, aku kebagian mengambil air minum sore. Dua kakakku bertugas pagi hari. Kami mengecualikan ibu dari tugas ini karena ibu sedang hamil tua. Pekerjaan ke pasar sudah cukup memberatkan untuknya. Di kampung kami ada beberapa sumur khusus yang digunakan untuk kebutuhan minum dan memasak, sedangkan untuk mandi dan mencuci kami menggunakan air lengkoq. Untuk mencuci piring dan lain-lain di rumah, kami mengambil air dari lengkoq dan menyimpannya dalam kendi air besar yang kami sebut bong.

Bong sama seperti kendi lain terbuat dari tanah liat, terdapat lubang kecil di bagian bawah bong. Lubang kecil ini sebagai jalan keluar air. Kami menggunakan batang kayu kecil sebagai penutup lubang ini. Kami menggunakan potongan batang pohon kelapa sebagai tempat menaruh bong. Batang pohon kelapa ini biasanya setinggi maksimal satu meter sehingga tidak terlalu sulit untuk menumpahkan air ke dalam bong. Aku mengecek sisa air di bong dengan membuka penutup kecilnya. Air keluar dengan lemah dan tidak jauh dari kaki batang kelapa. Artinya air yang tersisa tidak banyak. Aku memutuskan untuk mengambil air ke lengkoq sekarang saja. Saat ayah dan ibu pulang mereka akan butuh air untuk membersihkan diri. Dan nanti sore aku ada rencana merebus ubi dengan teman-temanku.

Kami punya ember  plastik berukuran besar dan kecil. Aku membawa dua-duanya. Satu aku akan bawa di atas kepala, satu lagi di tangan. Tidak lupa aku membawa alas untuk ember di kepala supaya kepalaku tidak sakit dan embernya tidak goyang saat aku membawanya nanti. Jam segini biasanya di lengkoq tidak terlalu ramai. Hanya akan ada satu dua orang yang juga mengambil persediaan air. Dan hari ini tidak jauh berbeda. Dan aku bersyukur ada orang lain di sana, karena kalau tidak aku akan kesulitan mengangkat ember besar ke atas kepalaku dan aku akan membutuhkan bantuan. Kalau tidak, aku harus mengurangi isinya agar bisa kuangkat sendiri.

Aku menggunakan ember kecil untuk mengisi ember yang lebih besar. Setelah penuh baru kemudian mengisi ember yang kecil. Salah satu tetangga Suk yang baru menikah beberapa minggu lalu, yang juga sedang mengambil air, membantuku mengangkat ember besar ke kepalaku. Aku berterima kasih padanya. Dalam hati berharap dia masih akan mengambil air saat aku kembali nanti.

Dengan air di kepalaku aku harus berjalan lebih pelan dan berhati-hati. Lebih-lebih saat aku harus melewati pematang sawah yang menanjak. Aku tidak mau terjatuh di sini lagi. Selain itu, berjalan dengan lebih pelan mengurangi kemungkinan percikan air tumpah dari ember karena gerakan yang terlalu cepat. Indy membantuku menumpahkan air ke dalam bong. Aku kembali ke lengkoq sebanyak lima kali sebelum akhirnya bong penuh. Dan sekali lagi sebagai cadangan   di ember yang besar dan kecil. Bajuku basah oleh keringat bercampur dengan tumpahan kecil air dari ember besar. Ayah dan ibuku pulang beberapa saat setelah aku selesai. Mereka pun segera membersihkan diri. Indy membangunkan Yati untuk sama-sama membantu ibu memasak. Kali ini ada jagung. Banyak jagung.

Jagung ini kemudian direbus. Ibu memarut kelapa sementara kami memisahkan biji jagung yang sudah direbus dari rongkolnya. Setelah selesai biji jagung ini kemudian dicampur dengan parutan kelapa dan diberi sedikit garam sebagai tambahan rasa. Setelah semua siap kami menyiapkan piring untuk ayah terlebih dahulu. Baru kemudian untuk ibu dan kami. Kami tidak makan di tikar kali ini. Kami membawa piring kami ke tempat masing-masing. Ayah kembali ke tikar tempatnya berbaring tadi, ibu di dekatnya. Aku dan kakak-kakakku membawa piring kami ke tangga depan dan duduk di sana menikmati makan siang kami yang tertunda. Walaupun lapar, kami tau kami harus makan dengan pelan.

Selesai makan, Ita masuk ke rumah dan membereskan piring ayah dan ibu. Dia juga mengambil piringku dan Indy. Ita di rumah kami ini seperti alat pencuci piring. Sepertinya itu pekerjaan favoritnya. Hampir selalu dia yang melakukannya, Indy membersihkan rumah dan sekeliling, dan kami semua mengambil air. Alat-alat makan dan alat memasak yang sudah dicuci bersih kemudian dikeringkan di rak yang terbuat dari bambu di depan rumah. Rak ini dibuat cukup tinggi dan lebar supaya kami bisa meletakkan banyak barang di sana.

Karena masih ada banyak waktu sebelum aku dan teman-temanku akan merebus ubi kami, aku dan kakakku berkeliling di kebun-kebun sekitar rumah untuk mengumpulkan kayu bakar. Kami membagi tugas memungut, memotong-motong, merapikan dan mengikat kayu bakar. Kami tidak boleh membiarkan kayu bakar di rumah habis. Selain kayu bakar, kami juga banyak mengumpulkan daun kelapa kering. Karena minyak tanah hanya kami gunakan untuk keperluan bahan bakar lampu, kami butuh daun kelapa kering ini untuk mempermudah membuat api saat memasak. Terkadang kami membawa pulang daun kelapa kering ini beserta pelepah pohonnya dan menumpuknya di samping tumpukan kayu-kayu lainnya di samping rumah. Kadang ada juga pengepul kayu yang ke rumah-rumah warga di kampungku untuk membeli kayu kami untuk dibawa ke pasar. Kayu-kayu ini dijual per meter persegi tumpukannya. Kemudian pengepul akan menjualnya per ikat di pasar. Kadang kami anak-anak dan remaja sengaja mengumpulkan banyak kayu untuk dijual agar punya uang jajan.

Sore pun tiba. Sambil menunggu Iyar dan Suk datang ke rumah, aku mengambil panci dari dapur dan mengisinya dengan air. Ubi yang kami peroleh cukup banyak dan bisa untuk beberapa kali makan. Kami akan menyimpan sisanya. Aku sedang menyalakan api ketika Iyar dan Suk tiba.

Share this on

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of