TERLALU JELAS: (PART 2) IYAR

0
3
Cerita 1: Terlalu Jelas-Part 1 Ulang Tahun
Share this on

(PART 2) IYAR

Also read (Part 1) Ulang Tahun

Kamis pagi.

Di zaman sekarang ini anak-anak sekolah punya beberapa seragam yang berbeda untuk hari Senin-Selasa, Rabu-Kamis, dan Sabtu-Minggu atau Jumat-Sabtu. Tidak demikian di masa kecilku. Hanya ada dua jenis seragam yaitu putih-merah/biru donker untuk SD/MI dan pramuka. Dan di daerahku saat itu kami mencampuraduk pramuka dengan merah, ataun baju putih dengan bawahan pramuka. Dan tidak ada hukuman untuk kami. Itu adalah pemandangan biasa. Dan Kamis pagi itu aku memakai baju pramuka dengan bawahan biru donker.

Pagi ini aku buru-buru pergi ke sumur umum yang sebenarnya kami sebut sebagai lengkoq untuk mandi. Lengkoq  biasanya terdapat di sekitar sawah yang memiliki mata air yang banyak. Sumur memiliki pembatas di atasnya, entah dengan batu-bata ataupun kayu, dan biasanya untuk mengambil airnya kita menggunakan timba yang terbuat dari ember kecil karena sumur biasanya dibuat cukup dalam. Sementara lengkoq lebih dangkal, tidak perlu menggunakan timba untuk mengambil airnya. Kami cukup menggunakan gayung.

Peraturan tidak tertulis di kampungku memungkinkan kami anak-anak sekolah bisa menyerobot antrian. Seramai apapun kondisi di lengkoq, kami tetap akan didahulukan karena kami harus pergi ke sekolah. Ibu-ibu yang mau mencuci dan mandi mengalah dan bahkan membantu kami mengambil air karena kami berada sedikit jauh di pinggir dan banyak barang berjejal di dekat lengkoq. Aku melihat Iyar sudah ada di sana dan aku segera bergabung dengannya. Kami tertawa-tawa cekikikan sambil menahan rasa dingin diguyur air oleh salah satu ibu-ibu yang sedang mencuci sarung yang trelihat seperti habis direndam di air lumpur. Kami jarang menggunakan sabun mandi karena sabun memang terbatas. Tumbuhan merambat di pematang sawah berdaun kecil-kecil yang kami tidak tau namanya, kami gunakan sebagai pengganti sabun. Sama seperti sabun, busa-busa akan banyak muncul setelah menggosokkan sabun alami ini ke kulit.

Walaupun batang tumbuhan ini tidak terlalu kasar, tapi karena kulitku lebih putih dibanding temank-temanku dan kebanyakan orang-orang di sini, kulitku terlihat merah selama beberapa menit setelah mandi. Di beberapa bagian saja, mungkin karena aku menggosoknya terlalu keras. Iyar dan aku saling membantu menggosokkan punggung satu sama lain. Beberapa anak lain terlihat berdatangan dan menuruni pematang sawah menuju lengkoq. Lengkoq ini memang terletak di sawah yang agak rendah. Di musim hujan kami harus berhati-hati karena jalan menuju lengkoq ini bisa sangat licin. Aku sendiri pernah terpeleset berkali-kali dan jatuh ke arah sawah dan ditertawakan teman-temanku. Menahan tangis dan malu aku juga ikut tertawa keras.

Sabun alami ini juga kami gunakan sebagai sikat gigi, bersama dengan batu apung kecil yang kami gosok-gosokkan dengan hati-hati agar tidak melukai gusi. Aku mengorek-ngorek tanah di balik rumput untuk mengambil batu kecil. Iyar melakukan hal yang samadan kami mulai menggosok gigi.

Kami selesai mandi bersamaan dan langsung berpakaian sekolah. Dan kebetulan sekali kami menggunakan setelan amburadul yang sama, pramuka-biru donker. Kami tidak repot-repot mengeringkan tubuh terlebih dahulu, kami hanya mengusap-usap air di tubuh kami dengan tangan. Kaitan rokku terlepas beberapa waktu lalu dank arena tidak memiliki ikat pinggang maka aku menggunakan kulit pohon pisang sebagai pengganti ikat pinggang. Iyar selalu tertawa melihat rokku yang terlihat naik sebelah, lebih tinggi di bagian kiri. Aku nyengir saja.

“Ayo cepat. Cepat!” kataku sambil berlari pulang. Iyar juga berlari kecil di belakangku. Aku bisa merasakannya. Iyar dan aku bertetangga. Rumahku di belakang rumahnya. Kami biasa saling memanggil dari rumah masing-masing dengan berteriak. Tentu saja itu jika ayahku tidak di rumah. Aku tidak mau ayah memelototi aku.

Aku meletakkan gayung di depan rumah dan masuk berpamitan berangkat sekolah. Aku sudah sarapan sebelum mandi tadi dengan beberapa potong singkong rebus dan urap entah daun apa. Aku mengambil salah satu buku tulisku yang sebelah sampulnya sudah sobek karena aku main-mainkan. Buku tulis tipis dengan kertas yang terlihat mengkilat dan berminyak. Tidak benar-benar berminyak, tapi sensasinya seperti itu saat disentuh. Aku pastikan pensilku ada di dalam buku itu sebelum meninggalkan rumah menuju sekolah.

Tidak ada uang saku untukku hari ini.

Dua kakakku tidak melanjutkan sekolah karena tidak ada biaya. Mereka lulus MI dan tinggal di rumah membantu pekerjaan orang tua kami. Yang masih bersekolah hanya aku dan kakak sulungku. Saat ini kakakku sekolah di kabupaten lain, dan hampir semua uang orang tuaku dihabiskan untuknya. Kakak sulungku yang paling pintar di antara kami, kata ayahku. Dia yang paling tua dan dia akan menjadi orang tua kami nantinya jika mereka sudah meninggal. Jadi dialah yang paling harus mendapat pendidikan. Kami manut-manut saja karena kami bahkan tidak terlalu peduli tentang itu. Kami selalu tau dia adalah anak kesayangan orang tua kami. Jika dia sedang di rumah, terkadang hanya dia yang diberikan nasi. Kami makan yang lain. Kami hanya melirik saja sambil membayangkan rasa nasinya. Hangat dan akan terasa manis jika aku berlama-lama mengunyahnya. Aku mengunyah urap singkongku dan menggunakan imajinasi terbaikku untuk membayangkan bahwa aku sebenarnya sedang mengunyah nasi. Aku selalu gagal. Mungkin ayah benar.

“Kamu bawa?” tanyaku ke Iyar. Dia menungguku di halaman rumahnya. Iyar melirik ke sekeliling dan menyingkap sedikit bajunya. Aku bisa melihat ada yang menyembul. Dia terlihat bangga, dan aku tersenyum. Dia memperbaiki bajunya, memastikan bawaannya tidak terlihat.

“Kita entar lewat sawah nenek Iyam ya. Kamu yang bawa ntar.”

“Iyaaaa” jawabku sambil menarik tangannya. Sebelah tangannya memegang buku tulis yang kondisinya tidak jauh lebih baik dari buku tulisku. Dia menggulung bukunya agar mudah dibawa. Dan menurut kami lebih praktis.

Nenek Iyam punya padi di sawahnya. Dan kami anak-anak sering sekali mengambil setangkai padi yang belum terlalu tua untuk kami makan. Tentu saja kami harus melakukannya secara diam-diam. Dan kami selalu memastikan berangkat sekolah sebelum pemilik berangkat ke sawahnya. Kadang kami berhasil, tapi lebih sering gagal. Dan hari ini kami gagal.

Nenek Iyam dan anaknya sudah ada di sawah. Kami pun melengos mengganti arah. Tanpa bicarapun kami sama-sama tau bahwa kami kecewa. Tapi syukurlah Iyar membawa bekal untuk kami. Kami akan memakannya nanti di jam istirahat.

Aku tidak termasuk siswa yang berprestasi. Iyar juga. Kami adalah murid dengan kemampuan biasa-biasa, kalau tidak bisa dibilang di bawah rata-rata. Di dalam ulangan-ulangan yang diberikan, kami sering mendapat nilai merah. Nilai 4 atau 5. Sekali lagi, ayahku benar. Kakakku di lain pihak memang pintar. Dia termasuk siswa berprestasi dari dulu. Dan dia yang paling cantik di antara kami. Dalam hampir segala hal dia memang lebih unggul.

Aku menatap kertas ulanganku dan berusaha memeras otak. Aku tidak tau kenapa guru-guru merasa sangat perlu untuk memberikan kami ulangan dadakan. Kali ini ulangan Matematika. Mata pelajaran yang sangat tidak bersahabat dengan kapasitas otakku. Aku tidak suka berpikir terlalu keras. Aku tidak suka memaksa diri mengingat-ingat banyak rumus dan perkalian. Ayahku punya istilah lain untuk itu: malas. Tapi aku tidak malas. Menurutku aku tidak malas. Tapi nilai-nilaiku berkata lain.

Waktunya habis dan kami harus mengumpulkan jawaban kami. Kami menjawab soal di buku catatan kami dan merobeknya untuk dikumpulkan. Aku menjilat-jilat lipatan yang aku buat di pangkal sambungan setiap kertas di buku tulisku agar sobekannya rapi. Anak-anak lain juga melakukan hal yang sama. Kami berebutan ke depan untuk mengumpulkan kertas jawaban dan berlari keluar kelas. Anak-anak lain yang cukup berada dan membawa uang saku akan berlarian ke penjual makanan di depan. Ibu-ibu penjual ini berasal dari kampung sebelah, dia membawa tikar sebagai alas untuk berjualan. Kadang dia menjual tebu, kacang goreng, kacang rebus, dan jagung. Kacang rebus adalah favorit.

Iyar dan aku berjalan ke arah berlawanan dari kebanyakan teman-teman sekelas kami. Kami menuju belakang sekolah untuk memakan bekal yang Iyar bawa. Aku sedikit melompat-lompat sambil melirik ke kiri dan ke kanan. Sebenarnya kami tidak perlu sembunyi-sembunyi, banyak anak lain juga melakukannya. Entah kenapa kami selalu saja mengikuti insting aneh untuk sembunyi di belakang kelas. Sekolah kami lumayan luas dan bagus. Pekarangan sekolah selalu bersih karena setiap pagi sebelum memulai pelajaran kami semua akan membersihkan area sekolah. Kami punya ratusan stok sapu lidi di gudang. Sapu lidi ini adalah hasil karya semua siswa di sekolah ini. Setiap awal tahun pelajaran, kami masing-masing harus membawa satu sapu lidi. Dan akan dinilai oleh guru kami. Jika sapu lidinya kecil maka nilai juga kecil. Jadi kami berusaha untuk tidak malas dan membuatnya lebih besar beramai-ramai di kebun dengan teman-teman. Orang tua kami memotong pelepah kelapa untuk kami. Dan kami yang akan meraut lidinya. Setelah selesai biasanya ayah kami akan mengikatkannya untuk kami. Sebenarnya kami bisa ikat sendiri, tapi tidak cukup erat dan kuat.

“Enak ya!” kata Iyar sambil melihatku dengan wajah berbinar. Dia mengunyah dengan cepat. Sepotong daging kelapa tua ini adalah cemilan kami di sekolah karena kami jarang membawa uang jajan.

Aku mengangguk sambil terus mengunyah. Jika terlalu tua maka kami tidak menelan ampasnya karena terlalu kasar. Kami hanya menyesap santannya saja. Tapi jika masih cukup muda untuk bisa ditelan maka kami menelan beserta ampasnya. Kami bergantian menggigit daging kelapa tersebut sampai habis.

Iyar memiliki beberapa saudara laki-laki dan perempuan. Tapi hanya dia yang sekolah. Dua kakak laki-lakinya tidak pernah mengecap pendidikan sama sekali. Dua kakak perempuannya pernah bersekolah di sekolah ini tapi berhenti sebelum lulus. Kehidupan lebih sulit bagi kakaknya. Setidaknya begitulah perkiraan kami.

Selesai makan kami tetap duduk di belakang kelas. Aku menanyakan bagaimana ulangan dadakan tadi ke Iyar. Entah apa yang aku harapkan. Aku mungkin berharap dia sama buruknya denganku, atau sebaliknya. Tapi kemampuan kami memang hampir sama. Aku rasa aku hanya berusaha meyakinkan diri sendiri bahwa aku tidak sendirian.

“Aku jawab delapan soal.” Jawabnya, “kamu?”

“Aku jawab semuanya.” Jawabku.

Dia terlihat cemas.

“Aku mengarang indah di soal-soal terakhir.” Lanjutku menenangkannya. Aku tidak mengada-ada tentang ini. Aku memang tidak mengerti dua soal terakhir dan mengarang-ngarang rumus, mengkombinasikan rumus-rumus yang aku ingat hingga muncul jawaban. Dan aku berhasil, Iyar terlihat lebih tenang. Dia merapikan rambut keritingnya yang terlihat kasar. Mungkin sudah beberapa hari tidak dicuci. Aku bersyukur rambutku lurus jadi tidak terlalu repot untuk mencuci rambut berkali kali. Tapi aku terkadang iri dengan rambutnya. Di usia 12 tahun seperti kami ini, kami kadang suka membicarakan tentang rambut. Penampilan.

Beberapa hari lalu Iyar membantuku mengeriting rambutku. Kami menggunakan tangkai daun kapuk atau randu sebagai alat pengeriting. Rambutku dibagi menjadi banyak bagian kecil-kecil dan dimasukkan ke belahan tangkai daun randu ini. Iyar kemudian menggulung rambutku dari ujung sampai mendekati pangkal dan mengikat kedua ujung tangkai randu dengan kuat. Harus cukup kuat karena aku akan membawanya tidur dan membukannya keesokan harinya sebelum berangkat sekolah. Mungkin Iyar lebih bersemangat dariku untuk melihat hasilnya. Karena setiap kali dia melakukan itu, keesokan harinya dia akan menungguku pagi-pagi di depan rumah.

Walaupun kakak-kakakku juga sering melakukan ini, aku selalu dimarahi ibuku setiap kali melakukannya. Karena tangkai daun randu ini memang meninggalkan aroma yang kurang menyenangkan di rambut. Tapi kata Iyar aku terlihat bagus dengan rambut keriting, jadi aku pikir sedikit bau tidak masalah. Sayangnya keriting ini tidak bertahan lama. Hanya bisa bertahan sehari kalau aku tidak menyisir rambut, dan kurang dari setengah hari jika aku sisiran. Jadi untuk mengakalinya, rambutku aku sisir sebelum dikeriting jadi aku tidak perlu menyisir rambut setelahnya.

Kami mendengar guru berteriak untuk masuk kelas. Waktu istirahat sudah selesai. Kami pun segera kembali ke kelas untuk melanjutkan pelajaran. Kami sudah punya rencana untuk jam pulang sekolah. Dan kami sudah tidak sabar. Ada petani yang sudah panen ubi tidak jauh dari sekolah kami. Jika kami tadi pagi berangkat sekolah lewat sawah Nenek Iyam, sawah petani ini akan berada di setengah perjalanan dari rumah kami menuju sekolah. Dan siang ini kami akan ke sana. Suk akan menunggu kami di sana dengan membawa bakul kecil.

Aku menggulung buku tulisku dan kumasukkan ke dalam bajuku sama seperti yang dilakukan kebanyakan anak-anak lelaki di sekolahku. Iyar juga melakukan hal yang sama. Setelah berdoa singkat di halaman sekolah kami berhamburan mencari teman-teman dekat masing-masing. Dan aku tentu saja mencari Iyar dan segera setelah bertemu kami langsung setengah berlari untuk ke sawah yang sudah kami rencanakan. Setelah cukup lengang kami berlari lebih cepat, lebih cepat, dan lebih cepat. Sambil tertawa-tawa tanpa alasan kami terus saja berlari. Aku harus sedikit menggenggam bagian ikatan ikat pinggang palsuku agar tidak terlepas. Aku menunduk memastikan memang tidak akan terlepas tanpa mengurangi kecepatan. Iyar menoleh ke arahku dan tertawa terbahak-bahak. Aku juga ikut tertawa dan akhirnya kami terduduk jongkok sambil memegang perut berusaha tidak tertawa terlalu keras. Tapi kami berdua tau kami tidak berhasil. Selanjutnya aku dan Iyar sudah memukul-mukul tanah hampir mencium sampah-sampah daun kering yang berserakan di tanah sambil tertawa sampai air mata kami keluar. Dan ikat pinggangku sama sekali tidak terlepas.

Share this on

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of