TERLALU JELAS: (PART 1) ULANG TAHUN

2
154
Cerita 1: Terlalu Jelas-Part 1 Ulang Tahun
Share this on

(PART 1) ULANG TAHUN

Aku adalah anak keempat dari 7 bersaudara. Kami semua perempuan. Aku lahir pada saat hampir semua orang di kampungku mengalami kesulitan financial. Mungkin di seluruh Lombok, entahlah. Tapi ke manapun aku pergi saat itu, semua terlihat sama menderitanya. Saat kami masih hanya empat bersaudara, di mana aku yang termuda, kehidupan kami benar-benar sulit. Saat itu entah tahun berapa, tapi sekeliling kami yang aku ingat masih sangat hijau. Semak dan pohon di sana sini, lebih rimbun dari hutan yang ada saat ini. Salah satu alasan kenapa akivitas kami terhenti saat malam datang. Tidak ada listrik, dan di luar terlalu menyeramkan.

Begitu jam magrib tiba, orang tua kami, bukan aku dan saudaraku saja, tapi semua orang di kampungku, akan menakut-nakuti kami dengan mengatakan “jangan main-main di luar, nanti beboro datang dan nyulik kamu”. Beboro adalah istilah lokal untuk apa yang sekarang kita sebut sebagai wewe gombel, hantu yang menculik anak-anak. Dan saat itu masih sangat banyak burung hantu. Begitu hari mulai gelap maka burung hantu mulai bersahut-sahutan dari kejauhan. Dan itu tentu menambah seram dan rasa takut kami pada beboro. Tapi jujur saja, sampai saat ini aku tidak pernah bertemu beboro. Tidak satupun di antara saudaraku.

Pada zaman itu ketika ekonomi sedang sangat sulit di daerahku, saat Indonesia baru mengecap kebebasan beberapa tahun, pada masa pemerintahan presiden kedua di negara ini, entah bagaimana setiap keluarga memiliki lebih dari lima anak. Makanan saja sangat sulit di dapat. Orang tuaku sendiri adalah petani. Ibuku mendapat warisan dari kakek berupa sejumlah petak sawah yang kemudian digarap oleh orang tuaku. Tapi saat itu tidak ada padi untuk ditanam, yang bisa kami tanam hanyalah jagung dan singkong. Memiliki beras saat itu adalah lambang kekayaan dan kemakmuran. Dan kami tidak memilikinya. Seperempat gelas kecil beras bisa kami lihat di rumah hanya beberapa kali dalam beberapa bulan, dan itu jatah untuk sekeluarga.

Suatu hari kami sedang duduk di atas tikar yang terbuat dari daun pandan kering mengelilingi kendi yang kami gunakan untuk memasak. Ada sedikit nasi di dasar kendi. Dan kami sangat bersemangat.

“Kalian bisa duduk dengan tenang tidak sih?” Ibu kami mulai gerah karena kami terus ribut dan bermain-main saling mencubit dan menarik pakaian kami yang lusuh dari belakang. Benar, saat itu kami hanya memiliki 2 atau tiga potong baju selain seragam sekolah. Dan semuanya lusuh, kotor, dan punya jahitan tambalan di sana sini. Kainnya sangat kasar. Keadaan orang tua kami juga tidak lebih baik. mereka menggunakan sarung dengan bahan yang kami sebut sebagai kain berut. Kain berut ini mereka buat sendiri. Orang-orang dewasa memetik buah kapas, mengambil kapasnya, membuatnya menjadi lembaran-lembaran benang dengan alat yang kami sebut arah. Arah ini terbuat dari kayu berbentuk seperti roda. Lembaran kasar benang ini kemudian kami campurkan dengan nasi untuk membuatnya kuat dan kemudian menggantungnya di jemuran yang terbuat dari bambu. Setelah itu lembaran ini mereka sikat sampai membentuk benang yang lebih halus dan kuat. Benang ini kemudian dibuat menjadi kain dengan sengsekan. Hal menyedihkan tentang kain ini adalah kulit akan terasa sangat gatal saat memakainya. Kutu yang mirip kutu rambut berjumlah ratusan hidup dan berkembang biak di kain  ini. Dan untuk menghilangkannya orang tua-orang tua kami harus mencucinya dengan air mendidih. Dan pakaian kami juga terbuat dari kain berut ini.

Ibu kami kembali ke bilik sebelah yang dijadikan sebagai dapur untuk mengambil piring untuk kami dibantu oleh kakak tertuaku. Piring kami terbuat dari bahan besi murahan bergambar bunga, pada tahun 1990an piring semacam ini kami gunakan untuk sebagai tempat makanan kucing. Dulu saat orang tuaku masih muda, berdasarkan cerita mereka, “piring” mereka lebih unik. Yang aku sebut “piring” adalah alas makan yang terbuat dari belahan batok kelapa yang dihaluskan. Sangat halus dan berwarna hitam mengkilat. Hampir semua orang saat itu menggunakan piring seperti ini. Hanya orang-orang cukup kaya saja yang mempunyai piring yang terbuat dari besi tipis.Tapi aku dalam hati berharap aku sempat melihat koleksi piring semacam itu.

Ibu menata piring di tikar. Aku diminta memanggil ayah yang masih mengumpulkan lempengan-lempengan kayu di depan. Akupun segera keluar karena aku juga sudah tidak sabar untuk makan.

“Ayah, kita mau makan” Hanya itu saja yang aku ucapkan dan ayahku tanpa mengatakan apapun segera masuk.

“Cuci tangan kalian sana.” Kata ibuku, dengan ketus. Di sini ibu-ibu memang berbicara dengan nada seperti itu, agak kasar dan ketus. Tapi kami saat itu tidak menganggap sedang dikasari. Kami menganggap itu sesuatu yang biasa. Dan kamipun segera mencuci tangan.

Ibu mulai mengambilkan kami makan satu-persatu. Dimulai dari lauk yang terbuat dari nangka, kemudian sayur papaya untuk memenuhi piring kami. Dan terakhir adalah sejumput nasi. Yang paling mewah di antara semua makanan yang ada. Di ujung piring, sedikit saja. Dan kami sangat bahagia saat itu. Tidak ada percakapan apapun selama makan siang itu, ayahku adalah tipe ayah yang pemarah namun penyayang, dan sama sekali tidak suka suara bising atau orang berbicara saat sedang makan. Jadi kami semua makan dalam hening.

Ayahku berasal dari keluarga yang lebih miskin dari ibu. Tidak ada warisan apa-apa untuknya. Tapi dia adalah pekerja keras dan tulang punggung keluarga. Dia melakukan semua jenis pekerjaan untuk menghidupi keluarganya. Persis sama dengan kepala keluarga lain di daerah kami. Tidak ada satupun ayah yang bermalas-malasan. Malas berarti lapar. Malas berarti akan ada banyak perut yang kelaparan malam nanti. Satu-satunya hal baik adalah ibuku punya beberapa petak sawah yang bisa digarap ayah. Hanya saja saat itu tidak ada benih padi atau sayuran, atau buah-buahan untuk ditanam di sana. Pilihannya hanya jagung dan singkong. Dan itulah yang ditanam sepanjang tahun.

Saat musim panen tiba, kadang kami akan bolos sekolah untuk membantu orang tua kami membawa hasil panen ke pasar. Rumah kami berjarak puluhan kilo dari pasar. Dan kami berjalan kaki membawa hasil panen kami ke sana. Perjalanan kami mulai pagi-pagi buta, gelap gulita. Tapi tidak terlalu menakutkan karena beberapa orang lainnya juga melakukan aktivitas yang sama di jam yang sama. Ibu membantu ayah menata hasil panen dalam bakul, mengikat jagung di sebatang kayu yang akan dipikul ayah besoknya. Dan kami akan membawa hasil panen dalam bakul. Jika hasil panen banyak maka kami berangkat lebih pagi supaya bisa melakukan dua atau tiga perjalanan. Tidak ada alas kaki. Tidak ada senter. Kami menggunakan penerang dengan membakar daun kelapa yang diikat. Masing-masing dari kami membawa satu ikat. Saat ikatan pertama hampir mati, maka salah satu dari kami akan mengambil api dari ikatan pertama tersebut. Begitu seterusnya sampai daun kelapa habis atau hari mulai terang.

Ayah dan ibu akan berada di pasar sampai semua barang dagangan mereka habis, sementara kami anak-anak akan pulang ke rumah dan pergi sekolah jika masih ada waktu. Jika tidak maka kami akan bermain saja di rumah. Menunggu orang tua kami pulang sambil berharap mereka akan membawakan kami sesuatu dari pasar.

Tidak jauh dari rumah kami ada pohon asam yang entah sudah berapa puluh tahun usianya. Sangat tua, tinggi, besar, dan sering dikait-kaitkan dengan cerita seram. Aku tidak berani melewati pohon asam itu sendirian. Saat musim pohon asam berbuah, terlepas dari cerita menyeramkan itu, kami sering bermain-main di bawahnya. Mencari-cari adakah buah asam yang jatuh karena angin, terlalu matang, atau sisa yang tertinggal saat pemiliknya memetik buah di hari sebelumnya. Kadang kami akan melempari buah-buah yang agak rendah dengan batu sampai terjatuh. Kemudian kami akan berebut mengambil buahnya di bawah. Dan biasanya yang melempari jarang sekali kebagian. Jadi kami membuat aturan tidak tertulis, jika memungut buah yang jatuh dari hasil lemparannya, maka kami akan bagi dua dengannya.

Saat ini, aku masih mengingat setiap kejadian dari masa itu.

Hari itu terlalu terlambat untuk ke sekolah. Aku dan teman-temanku pergi mencari buah asam. Kali ini hanya teman perempuan, tidak ada yang akan melempar. Harapan kami hanyalah buah-buah yang sudah terjatuh. Dan hari itu kami mendapat jumlah yang lumayan. Kami cekikikan sambil memakan daging buah asam yang sudah matang dan memasukkan biji asam ke dalam kantung yang kami buat dari sisa-sisa kain sobek yang sudah tidak terpakai. Biji asam ini akan kami bawa pulang untuk direbus dan kami makan. Yang tidak menyenangkan adalah kami akan kentut puluhan kali sepanjang hari setelah memakan biji asam ini. Dan berbau sangat busuk. Tapi itulah cemilan kami. Dan pada musim seperti ini, kami dan anak-anak lain, laki-laki dan perempuan, akan menggunakannya sebagai taruhan dalam banyak jenis permainan.

Beberapa di antaranya adalah permainan carem dan letik. Dalam permainan carem ini semua taruhan akan dimasukkan dalam lubang kecil dengan diameter dan tinggi bervariasi tergantung jumlah taruhan. Satu biji asam yang kami pilih secara bebas dari milik kami, biasanya berukuran lebih besar dari biji-biji asam lainnya, berbentuk bagus, dan lebih berat kami gunakan sebagai katuq. Katuq ini kami gunakan sebagai pemukul (kami banting keras ke arah biji-biji asam di lubang). Jika katuq ini tertinggal di dalam lubang dan satu atau lebih biji asam lain keluar dari lubang, maka si pemain menang. Kami memukul bergiliran sampai ada yang menang. Karena permainan ini membutuhkan tenaga jadi biasanya perempuan bermain dengan perempuan, dan anak lelaki bermain dengan lelaki. Walaupun kadang ada juga anak perempuan yang cukup berani melawan anak laki-laki.

Sementara itu, dalam permainan letik tidak dibutuhkan banyak kekuatan. Kami anak perempuan lebih sering memainkan permainan ini. Kami menghamburkan biji-biji asam taruhan di sekitar lubang, dan memasukkan biji-biji asam ini satu persatu dengan menjentikkan jempol atau telunjuk kami mengarahkan biji ke lubang. Kami menang jika semua biji berhasil dimasukkan. Jika ada dua pemain, maka daerah di sekitar lubang di bagi dua. Kiri dan kanan, kami pisahkan dengan garis. Satu pemain menguasai satu daerah. Biji-biji asam taruhan dihamburkan di daerahnya. Jika ada biji yang keluar dari garis daerahnya dan terhambur ke daerah lawan, maka si pemain harus memasukkan biji-biji asam tersebut dengan tangan kirinya. Jumlah garis-garis daerah kekuasaan dibuat sesuai jumlah pemain. Biasanya tidak lebih dari empat orang.

Tapi hari itu kami tidak memainkan salah satu dari permainan di atas.

Sambil menjilat-jilati jariku, aku memperhatikan beberapa buah yang mengering di ujungnya.

“Nanti kita buat rumah-rumahan di belakang rumahmu aja ya!” kata Iyar.

“Iya.Tapi daun pisang ambil dari rumahmu ya. Aku kemarin dimarahin amaq karena kita ambil terlalu banyak” Kataku.

“Kita cari habis ini ya!” kata Iyar dan Suk bersamaan.

Amaq berarti ayah dalam bahasa kami. Aku memanggil ayahku amaq dan memanggil ibuku inaq. Daun pisang yang kami bicarakan kami gunakan sebagai atap dan alas untuk rumah-rumahan kami. Kami membuat tiang-tiang dari kayu kering yang kami temukan di kebun. Rumah-rumahan kami hanya setinggi pinggang dan kami harus menunduk untuk bisa masuk. Dan di dalam rumah itu kami hanya duduk berdesak-desakan. Tidak banyak aktivitas yang bisa dilakukan di sana. Aktivitas masak-memasak kami lakukan di luar. Kami menyusun batu-batuan yang kami kumpulkan menjadi tungku dan memakai kayu atau piring-piring yang sudah bolong di sana sini sebagai wajan sekaligus panci. Dan yang kami “masak” adalah dedaunan atau bunga-bunga yang kami temukan di sana sini.

Pola kegiatan kami dalam membuat permainan rumah-rumahan ini, baik rumah-rumahn di tanah dengan pasir ataupun rumah-rumahan dengan kayu dan daun pisang, selalu sama. buat rumah, main masak-masakan, dan main ulang tahun. Kenapa main ulang tahun? Karena hanya itu yang bisa kami pikirkan. Permainan ini muncul di generasiku, kata kakak-kakakku mereka tidak memainkan itu dulu. Entah dari mana asal permainan ini. Entah dari mana kami mendengar istilah itu dan siapa yang menyebarkannya. Kami sangat sering melakukannya. Di hari yang sama kami semua saling mengundang secara berurutan untuk acara ulang tahun kami. Dan rumah kami berjarak beberapa puluh centimeter saja satu sama lain.

Dialog permainan kami selalu berjalan sama.

“Tok tok tok.” Aku membuat suara ketukan dengan mulut.

“Siapa itu?” kata Suk.

“Nayah” jawabku. Iyar diam saja.

“Silakan masuk!” kata Suk mempersilakan kami dan kami akan masuk berjejalan di dalam rumahnya. Melipat kaki karena hanya dengan begitu kami bertiga mjuat di dalamnya. Kami mengucap selamat ulang tahun untuknya dan pura-pura makan daun-daun yang ia masak. Dan pesta pun selesai. Dan salah satu dari kami akan mengundang ke acara ulang tahun kami. Begitu seterusnya.

Belakangan aku sadar, saat ini saat hampir semua anak merayakan ulang tahunnya, setelah aku tua, tidak ada di antara kami saat itu yang tau kapan kami lahir. Kami tidak merayakan ulang tahun. Kami tidak benar-benar tau apa itu ulang tahun. Angka-angka yang ada di identitas kami saat ini adalah karangan belaka. Kami tidak tau kapan kami lahir. Begitu juga orang tua kami.

Share this on

2
Leave a Reply

avatar
2 Comment threads
0 Thread replies
0 Followers
 
Most reacted comment
Hottest comment thread
0 Comment authors
Recent comment authors
  Subscribe  
newest oldest most voted
Notify of
trackback

[…] Also read (Part 1) Ulang Tahun […]

trackback

[…] Part 1 […]